Aris Sugianto, Kuwu Desa Cikedung Lor periode 2026-2034. (foto/nopianto/IS)
Indramayu, Site – Aula Kecamatan Cikedung mendadak sunyi saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Di barisan depan, sosok pria dengan postur tegap tampak berdiri paling tegak.
Ia adalah Aris Sugianto, sosok yang hari itu menanggalkan atribut militernya untuk memulai babak baru sebagai Kuwu (Kepala Desa) Cikedunglor periode 2026–2034.
Prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) ini bukan sekadar seremoni rutin. Kehadiran Danramil 1613/Terisi, Kapten Inf Asep Mulyana, memberikan warna tersendiri.
Ada rasa bangga sekaligus haru saat seorang mantan prajurit kini resmi menjadi pelayan rakyat di tingkat desa.
Latar belakang Aris sebagai eks anggota TNI menjadi sorotan utama. Baginya, transisi dari medan tugas militer ke birokrasi desa adalah bentuk pengabdian yang setara, meski caranya berbeda.
“Saya akan berusaha menjalankan amanah ini dengan disiplin dan tanggung jawab. Pembangunan desa harus melibatkan seluruh elemen masyarakat agar hasilnya maksimal,” tegas Aris, Jumat (13/02/2026).
Ditambahkan juga oleh Aris Sugianto, bahwa jabatan Kuwu Cikedunglor bukan sekadar posisi, melainkan “medan tempur” baru untuk menyejahterakan warga.
Harapan besar kini berada di pundaknya, ribuan masyarakat Desa Cikedunglor menaruh asa, bahwa ketegasan dan kedisiplinan militer yang mendarah daging pada Aris mampu membawa perubahan signifikan, terutama dalam hal tata kelola desa yang lebih tertib dan transparan.
Dan acara serah terima jabatan (sertijab) pagi itu tidak hanya milik Desa Cikedunglor, terlihat ada dua desa lainnya yang membersamai, yakni Desa Amis dan Desa Loyang yang juga turut merayakan pergantian tongkat estafet kepemimpinan.
Suasana khidmat semakin kental saat Sekretaris Kecamatan Cikedung, Carwadi, membacakan memori serah terima jabatan yang berisi rekam jejak pembangunan sebelumnya.
Visualisasi pengabdian juga ditampilkan melalui video bertajuk “Derap Langkah Pemimpin Desa”. Video tersebut seolah menjadi pengingat bagi para kuwu baru bahwa jabatan adalah maraton pengabdian yang panjang.
Sementara itu, Camat Cikedung, Dadang Supriatna dalam sambutannya mengingatkan bahwa inovasi adalah kunci, namun stabilitas adalah fondasi.
Ia menekankan pentingnya transparansi dalam mengelola amanah rakyat.
Pesan senada datang dari perwakilan kuwu purna tugas, Abdul Kholik. Ia menitipkan pesan agar kekompakan masyarakat yang sudah terjaga selama ini tidak luntur di bawah kepemimpinan baru.
Hadirnya unsur Forkopimcam mulai dari Danramil hingga Kapolsek Cikedung seperti menegaskan satu hal, bahwa sinergi adalah harga mati untuk menjaga kondusivitas wilayah selama delapan tahun ke depan.
Acara monumental itu kemudian ditutup dengan doa oleh Ketua MUI Kecamatan Cikedung, KH Imam Nawawi, dan kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai kesan menandai berakhirnya masa transisi. (Nopianto/red)










