Kondisi rumah warga yang terendam banjir setinggi lutut akibat hujan lebat di Indramayu. (foto/rian/IS)
Indramayu, Site – Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, selama dua hari terakhir mengakibatkan sejumlah wilayah terendam banjir.
Genangan air tidak hanya melanda permukiman warga, tetapi juga merendam ruas jalan raya hingga area persawahan, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Pantauan di Desa Pekandangan Jaya, Kecamatan Indramayu, Jumat (23/1/2026) sore, menunjukkan ketinggian air di sejumlah titik mencapai sekitar 60 sentimeter.
Bahkan, air sempat masuk ke dalam rumah warga, memaksa sebagian keluarga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Selain permukiman, banjir juga menggenangi sejumlah ruas jalan utama.
Akibatnya, arus lalu lintas tersendat karena kendaraan harus melaju perlahan untuk menghindari mogok maupun kecelakaan.
Dampak banjir turut dirasakan sektor pertanian. Di Desa Panyindangan Kulon, Blok Pecuk, Kecamatan Sindang, lahan persawahan milik warga terendam air.
Kondisi tersebut dikhawatirkan merusak tanaman padi dan menyebabkan kerugian bagi para petani.
Tak hanya itu, intensitas hujan tinggi juga memicu kerusakan bangunan. Di Desa Cidempet, Kecamatan Arahan, dua unit rumah warga dilaporkan roboh akibat tergerus air dan kondisi tanah yang labil.
Salah seorang warga Desa Pekandangan Jaya, Rafi Ahmad (60), mengatakan banjir terjadi karena saluran drainase tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi.
“Dari kemarin hujan sudah dua hari sampai sekarang, jadi akibatnya banjir seperti ini karena selokannya tidak bisa menampung. Memang sebelumnya selokan di sini pernah dikeruk, tapi oleh masyarakat ditutup lagi karena digunakan untuk usaha. Mungkin juga pemerintah kurang tegas,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski air mulai surut, ketinggiannya masih cukup mengganggu aktivitas warga.
“Air memang sudah surut karena hari ini tidak hujan, tetapi masih cukup tinggi. Tadi malam jauh lebih parah, sekarang teras rumah baru mulai terlihat,” tuturnya.
Menurut Rafi, banjir hampir terjadi setiap tahun, namun kali ini menjadi yang terparah karena air masuk ke dalam rumah.
“Biasanya banjir tidak separah ini. Tapi karena hujannya besar dua hari tidak berhenti, akhirnya air sampai setinggi satu lutut di dalam rumah,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, Rafi bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi keselamatan.
“Kami mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, ke rumah saudara, karena rumah sudah tidak bisa ditempati,” katanya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan pembenahan drainase dan saluran pembuangan air agar banjir serupa tidak kembali terulang.
“Kami berharap selokan dan drainase dibenahi supaya aliran air lancar dan banjir tidak terjadi lagi,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Indramayu masih melakukan pendataan dampak banjir serta upaya penanganan di sejumlah lokasi terdampak. (Rian/red)












