Menu ✖

Mode Gelap
Tuntaskan Penanaman dan Pemeliharaan 165 Ribu Mangrove, Project R&P Balongan Dorong Pemulihan Pesisir Indramayu Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan Perkuat Sinergi PIS dan PTK, Jaga Distribusi Energi Nasional Dukung Cegah Stunting, Pertamina Balongan Berikan Pendampingan Gizi bagi Orang Tua Rumah Mewah di Indramayu Dirampok, Pemilik Diduga Dibunuh, Emas Setengah Kilogram Raib Momen Humanis Kapolres Indramayu, Duduk di Aspal Bersama Mahasiswa Pendemo Perketat Pengawasan, Bulog Indramayu Monitoring 31 Kios Penyalur Beras SPHP

News

Puasa dan Kearifan Ekoteologi Agama-agama

badge-check


					Puasa dan Kearifan Ekoteologi Agama-agama Perbesar

Oleh: Vanessa Shania, S.H., M.Kn
(Kepala Departemen Lintas Agama ALPENINDO-Alumni Penabur Indonesia/ Nahdliyin Tionghoa)

Opini, Indramayu.site – Puasa seringkali dipahami hanya sebatas ibadah menahan lapar dan dahaga. Padahal dalam banyak agama, puasa juga mengandung pesan yang lebih luas: membangun kesadaran spiritual sekaligus menjaga keseimbangan kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan alam.

Inilah yang dalam kajian teologi modern disebut sebagai ekoteologi—pandangan bahwa alam adalah bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga.

Dalam pandangan saudara kita yang muslim misalnya, puasa Ramadan bertujuan membentuk pribadi takwa, yakni manusia yang senantiasa memiliki kesadaran utuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap perbuatannya.

Puasa melatih manusia untuk hidup sederhana dan mengendalikan konsumsi. Dalam ajaran Islam misalnya, manusia dipandang sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga alam.

Dalam tradisi Katolik dan Kristen, puasa dikenal terutama dalam masa Prapaskah. Puasa menjadi sarana pertobatan sekaligus refleksi untuk hidup lebih sederhana dan peduli terhadap sesama.

Dalam pemikiran Gereja modern, terutama melalui gagasan ekologi integral, menjaga bumi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab iman.

Agama-agama Timur juga memiliki pandangan serupa. Dalam Hindu, praktik upavasa (puasa) bertujuan membersihkan diri dan menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Buddhisme menekankan pengendalian diri dan kesederhanaan hidup sebagai jalan untuk mengurangi penderitaan makhluk hidup.

Sementara dalam tradisi Konghucu, puasa atau penyucian diri sebelum ritual merupakan latihan moral untuk mencapai harmoni antara manusia, langit, dan alam.

Dari berbagai tradisi tersebut terlihat bahwa puasa memiliki pesan universal: menahan diri dari keserakahan dan mengembalikan keseimbangan hidup.

Di tengah krisis ekologis dunia saat ini, nilai-nilai spiritual seperti puasa dapat menjadi pengingat bahwa bumi bukan sekadar sumber eksploitasi, melainkan rumah bersama yang harus dijaga.

Sebagai seorang gadis Tionghoa Katolik yang hidup di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk—dan selama ini dekat dengan teman-teman dari tradisi Nahdlatul Ulama—saya melihat bahwa dialog antaragama sering kali menemukan titik temu pada nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap alam.

Puasa, dalam banyak agama dan sistem kepercayaan, menjadi salah satu jalan spiritual untuk merawat keduanya. (red/***)

Baca Lainnya

Komunitas Jurnalis Balongan Sukses Gelar Rakerda ke-3 di Ipukan Kuningan, Ini Program Kerjanya

24 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Niat Lerai Perkelahian, Petani di Indramayu Tewas Dikeroyok dan Ditusuk

16 Oktober 2026 - 18:42 WIB

9.360 Botol Miras Dimusnahkan di Indramayu, Bupati Lucky Hakim Sebut Denda Ringan Tak Bikin Penjual Kapok

15 Oktober 2026 - 20:11 WIB

4 Tahun Jadi PMI di Taiwan, Pulang Dapati Istri Punya Dua Anak dari Pria Lain, Suami Lapor Polis

7 Oktober 2026 - 16:01 WIB

143 Siswa Keracunan Usai Santap MBG, Dinkes Duga Ayam Tepung Jadi Pemicu

6 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Trending di Desa