Petugas Bulog Indramayu saat melakukan monitoring langsung ke kios penyalur beras SPHP. (foto/red/Riyan).
Indramayu, Site – Perum Bulog Cabang Indramayu, Jawa Barat, melakukan monitoring terhadap 31 Rumah Pangan Kita (RPK) atau kios penyalur beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam dua hari terakhir. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan penyaluran dan penjualan beras subsidi pemerintah berjalan sesuai ketentuan.
Pemimpin Cabang Bulog Indramayu, Apip Wijaya, mengatakan monitoring tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan. Namun, pengawasan kembali diintensifkan selama dua hari terakhir untuk memastikan tidak ada ketentuan penyaluran yang terlewat dari pemantauan.
“Jadi, sebetulnya kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengawasan dan monitoring yang rutin kita lakukan terhadap RPK-RPK setiap bulan,” kata Apip, Jumat (30/10/2026).
Apip menegaskan, apabila dalam monitoring ditemukan RPK yang terbukti melanggar ketentuan penjualan beras SPHP, Bulog akan mengambil tindakan dengan menonaktifkan kios tersebut sebagai penyalur.
“Nanti jika memang terbukti ada yang melanggar, tentu akan langsung kami non-aktifkan,” tegasnya.
Di tengah pengawasan tersebut, beras SPHP justru menjadi salah satu produk yang banyak dicari masyarakat. Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pedagang beras, menyusul harga beras lokal yang saat ini relatif mahal.
Pemilik kios beras di Pasar Baru Indramayu, Hadi, menyampaikan permintaan beras SPHP meningkat, terutama dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggunakannya sebagai bahan baku makanan.
Menurutnya, sejumlah pelaku usaha seperti penjual serabi, lontong, hingga nasi goreng memilih menggunakan beras SPHP karena harganya lebih terjangkau dibandingkan beras lokal.
“Jadi orang, khususnya buat UMKM yang buat jualan gitu, buat jualan serabi, buat lontong, itu pakainya beras SPHP semua, nasi goreng juga pakainya yang SPHP,” ujarnya.
Ia memastikan stok beras SPHP di kiosnya masih aman. Dalam satu minggu, Hadi melakukan dua kali pengambilan dengan total pasokan mencapai 4 ton atau masing-masing 2 ton setiap pengambilan.
Untuk harga jual, Hadi mematok Rp57.500 hingga Rp60.000 per sak, masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp62.500. Ia juga memastikan beras SPHP dijual sesuai kemasan dan tidak diperjualbelikan secara eceran.
Kondisi serupa dialami Daniati, pemilik kios beras di Desa Singaraja, Indramayu. Ia mengatakan beras SPHP menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari konsumen di kiosnya.
Dalam sepekan, Daniati bisa memesan sekitar 2 ton beras SPHP dan seluruhnya dapat habis terjual. Dia menyebut proses pemesanan dan penyediaan stok juga berlangsung cukup cepat.
“Responnya cepat, lumayan cepat,” ucapnya.
Daniati menjual beras SPHP seharga Rp60.000 per sak. Dia memastikan beras tersebut tetap dijual dalam kemasan asli dan tidak membuka karung untuk menjualnya secara eceran.
Bahkan, untuk memastikan ketentuan tersebut dipatuhi, Daniati membuat surat perjanjian dengan pekerjanya agar tidak membuka kemasan beras SPHP.
“Ini paling laris, Pak. Setiap minggu pasti ada saja yang mencari. Bahkan, setiap hari banyak yang bertanya,” ujarnya.
Daniati menambahkan, respons konsumen terhadap beras SPHP cukup baik. Menurutnya, kualitas beras yang diterima juga dinilai bagus oleh pembeli sehingga produk tersebut banyak diminati. (Riyan/red).












