Hashim Djojohadikusumo dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri seremoni penanaman kedelai bersama petani di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Indramayu. (foto/red/IS).
Indramayu, Site – Pemerintah memulai pengembangan kedelai skala besar dengan penanaman perdana di lahan seluas 210 hektare di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong swasembada kedelai nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Pengembangan kedelai dilakukan di lahan Hak Guna Usaha (HGU) PG Rajawali II melalui kerja sama Koperasi Bareng-Bareng Sugih (BBS), TNI Angkatan Laut, pihak swasta, dan ratusan petani setempat.
Dalam sambutannya, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan komitmen pemerintah untuk mencapai swasembada kedelai melalui perluasan areal tanam dan penyediaan benih unggul bagi petani.
“Kita harus swasembada kedelai agar petani dan rakyat Indonesia bisa menikmati tempe dan tahu dengan harga murah. Target kita terus menanam minimal satu juta hektare kedelai. Bibit unggul akan dibagikan kepada petani di seluruh Indonesia agar mampu meningkatkan produksi kedelai nasional,” tegas Hashim.
Sementara itu, Komisaris Koperasi Bareng-Bareng Sugih (BBS), Mulyadi, mengatakan program penanaman kedelai tersebut melibatkan sekitar 360 petani. Masing-masing petani menggarap lahan seluas kurang lebih setengah hektare.
“Yang kita tanam sekarang total luas sekitar 210 hektare dengan kelompok tani 360 orang. Satu orang menggarap sekitar setengah hektare lahan,” kata Mulyadi.
Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat mendukung upaya swasembada kedelai nasional sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi pada masa mendatang.
“Harapan kami bisa membantu program swasembada kedelai agar ke depan tidak lagi terjadi impor besar-besaran dari luar. Kedelai lokal yang akan mengangkat untuk ke depannya,” ujarnya.
Mulyadi menjelaskan, kawasan penanaman kedelai di Desa Sukamulya menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus karena memiliki luasan tanam yang cukup besar. Bahkan, lokasi tersebut disebut sebagai salah satu areal penanaman kedelai terluas yang saat ini mencapai 210 hektare.
“Beliau sangat tertarik mengunjungi lokasi di sini karena luasnya begitu besar. Kami juga hampir setiap minggu melaporkan perkembangan mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman, hingga kondisi terkini,” jelasnya.
Adapun kedelai yang ditanam merupakan varietas Garuda Merah Putih (GMP) 01 yang berasal dari bibit lokal Indonesia. Tanaman tersebut diperkirakan dapat dipanen sekitar 90 hari atau tiga bulan setelah masa tanam.
“Jenis kedelainya Garuda Merah Putih atau GMP 01. Itu kedelai lokal, bibit kedelai lokal,” terang Mulyadi.
Meski sejumlah pihak telah menawarkan kerja sama pemasaran hasil panen, kelompok tani saat ini masih memprioritaskan proses budidaya hingga masa panen tiba.
“Saat ini sudah banyak yang mau kontrak kerja sama dengan kami, tetapi kami masih fokus pada penanaman, perawatan, sampai proses pemanenan,” pungkas Mulyadi. (Riyan/red).












