Tunjinah mengabadikan momen di Hong Kong, tempat ia bekerja sebagai pekerja migran. (foto/Dokumentasi pribadi Tunjinah).
Indramayu, Site – Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota Hong Kong, Tunjinah (30) menjalani hari-harinya dengan satu tujuan utama, yakni memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anaknya di tanah air. Jauh dari kampung halaman, ia bertahan sebagai seorang ibu yang harus menukar kebersamaan dengan kerja keras.
Perempuan yang akrab disapa Angnah itu berasal dari Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sudah lima tahun terakhir, ia mengadu nasib di negeri orang dengan bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Keputusan itu bukanlah pilihan yang mudah. Statusnya sebagai single parent sekaligus tulang punggung keluarga membuat Angnah mau tak mau harus banting tulang demi mencukupi kebutuhan hidup anaknya.
“Khawatir ninggalin anak pasti ada, apalagi seorang ibu, mana ada yang mau jauhan sama anak. Tapi ya bagaimana lagi, demi masa depan anak aku,” ujar Angnah saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (14/12/2025).
Sejak Angnah berangkat ke Hong Kong, anak semata wayangnya tinggal bersama sang nenek di kampung halaman. Ia bercerita, sebentar lagi anak laki-lakinya itu akan masuk taman kanak-kanak (TK). Usianya kini menginjak lima tahun.
Namun di balik cerita itu, ada dilema yang terus mengendap di hatinya. Angnah mengaku kerap diliputi rasa sedih karena tidak bisa menyaksikan secara langsung proses tumbuh kembang anaknya dari dekat.
Dari kejauhan, ia hanya bisa mengiringi setiap langkah sang buah hati dengan doa. Angnah berharap anaknya kelak tumbuh menjadi pribadi yang pintar, berprestasi, dan mampu menempuh pendidikan setinggi mungkin, sesuatu yang dulu tak sempat ia raih.
Angnah sendiri hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga bangku SMP. Karena itu, ia ingin nasib anaknya kelak jauh lebih baik, bahkan bisa menjadi kebanggaan keluarga.
“Apa yang aku lakukan ini juga demi kebaikan anak. Kalau bisa aku pengennya anak itu sekolahnya lebih tinggi dari orang tuanya, jadi orang yang pintar,” tutur Angnah lirih.
Mengenang masa mudanya, Angnah mengaku sudah terbiasa hidup dalam kerasnya perjuangan. Sejak usia muda, ia telah mencoba berbagai pekerjaan demi membantu keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pribadinya.
Namun keterbatasan ijazah SMP membuat peluang kerja di dalam negeri semakin sempit. Kondisi itulah yang akhirnya mendorong Angnah mengambil keputusan besar merantau ke luar negeri demi mencari penghidupan yang lebih pasti.
Di Hong Kong, Angnah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Baginya, mendapatkan pekerjaan di luar negeri justru terasa lebih mudah dibandingkan di dalam negeri.
Apalagi dengan penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan, Angnah masih bisa menyisihkan uang untuk menabung, membantu orang tua di kampung, serta memenuhi kebutuhan anaknya.
“Saya di Hong Kong itu dari 2020. Selain karena alasan ekonomi, alasan utama saya ke luar negeri memang demi anak,” katanya.
Kerinduan pada keluarga di kampung halaman menjadi hal yang tak terpisahkan dari hidupnya. Untuk mengobatinya, Angnah rutin menelepon anak dan keluarganya, bahkan hampir setiap hari ketika memiliki waktu luang.
Hal itu sekaligus menjadi cara Angnah untuk tetap menjalankan perannya sebagai orang tua, meski terpisah jarak ribuan kilometer.
“Alhamdulillah kalau nelepon, selalu. Setiap waktu, setiap hari,” ucapnya singkat.
Tak hanya fokus bekerja, Angnah juga berupaya mengasah kreativitas diri. Sebagai ibu muda, ia aktif di media sosial dan dikenal sebagai konten kreator melalui akun Facebook bernama “Ang Nah Bae”.
Awalnya aktivitas tersebut hanya ia lakukan untuk mengisi waktu luang, namun perlahan berkembang dan memberinya penghasilan tambahan.
“Iseng-iseng sih ngisi waktu saja. Alhamdulillah bisa nambah-nambah pendapatan,” ujarnya.
Meski sudah terbiasa dengan ritme hidup sebagai pekerja migran, Angnah menegaskan bahwa ia tidak ingin selamanya berada di perantauan. Ada masa ketika ia ingin pulang, berkumpul kembali bersama keluarga, dan mendampingi anaknya tanpa sekat jarak.
Karena itu, sejak sekarang Angnah mulai memikirkan langkah ke depan yang akan ia tempuh di Indonesia. Rencana demi rencana ia susun perlahan, sambil menabung dari hasil kerjanya sebagai modal usaha kelak.
Angnah berharap bisa hidup mandiri dengan membuka usaha sendiri, agar kebutuhan keluarga kecilnya tetap tercukupi saat ia kembali ke tanah air.
“Alhamdulillah kalau planning sih banyak ya, malah banyak banget. Cuma nanti lihat ke depannya, lihat budget juga. Minta doanya,” pungkas Angnah. (Red/***)












