Pengambilan foto dengan Drone Panorama Hijau Mangrove Project R&P Balongan. (foto/red/IS)
Indramayu, Site – PT Pertamina Patra Niaga melalui Project Refinery and Petrochemical (R&P) Balongan menuntaskan rangkaian kegiatan penanaman dan pemeliharaan sebanyak 165.000 bibit mangrove di kawasan Pantai Tiris, Desa Pabean Ilir, Kecamatan Pasekan, Kabupaten Indramayu.
Program yang telah berjalan sejak tahun 2023 ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan, pemulihan ekosistem pesisir, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Program rehabilitasi mangrove tersebut dilaksanakan secara bertahap pada lahan seluas kurang lebih 15 hektare, dengan masing-masing tahap penanaman mencakup 55.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata.
Penanaman tahap pertama dilaksanakan pada September 2023, dilanjutkan tahap kedua pada Agustus 2024, dan tahap ketiga pada Oktober 2025.
Tidak berhenti pada kegiatan penanaman, Project R&P Balongan juga melaksanakan pemantauan dan pemeliharaan secara berkala bersama Konsultan Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Kelompok Tani Rafi Putra Jaya.
Kegiatan tersebut mencakup pengukuran pertumbuhan tanaman, penyulaman bibit yang mengalami kerusakan, pengendalian organisme pengganggu, serta pemeliharaan lingkungan di sekitar kawasan penanaman.
Sebagai bagian dari evaluasi akhir tahap pemeliharaan, Project R&P Balongan bersama Konsultan IPB melaksanakan pemantauan lapangan pada Selasa (27/10/2026) untuk meninjau perkembangan tanaman mangrove Tahap I hingga Tahap III sekaligus mengevaluasi hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan selama tiga tahun terakhir.
Berdasarkan hasil pemantauan Oktober 2026, tanaman mangrove secara umum menunjukkan kondisi pertumbuhan yang baik.
Perkembangan tersebut terlihat dari kondisi vegetasi yang semakin hijau dan segar dibandingkan pemantauan Juli 2026, seiring dengan mulai meningkatnya intensitas hujan di sekitar kawasan penanaman.
Hasil pengukuran Konsultan IPB mencatat rata-rata tinggi tanaman mangrove Tahap I mencapai 1,41 meter, Tahap II mencapai 1,12 meter, dan Tahap III mencapai 0,88 meter. Perbedaan pertumbuhan tersebut sejalan dengan usia tanaman pada masing-masing tahap penanaman.
Perkembangan positif juga terlihat pada sejumlah tanaman yang sebelumnya mengalami penyesuaian lokasi penanaman karena berada pada jalur aliran air laut alami. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tanaman pada lokasi pengganti mampu beradaptasi dengan baik.
Bahkan, secara visual ketinggian tanaman Tahap III pada area tersebut telah relatif mendekati tanaman Tahap II yang berada di sekitarnya.
Capaian ini menunjukkan hasil positif dari rangkaian kegiatan penanaman, pemeliharaan, dan penyulaman yang telah dilakukan secara berkelanjutan.
Mulai Menjadi Habitat Biota Pesisir
Selain perkembangan tanaman, hasil pemantauan juga memperlihatkan indikasi positif terhadap pemulihan ekosistem pesisir di kawasan Pantai Tiris.
Jika sebelumnya kawasan penanaman didominasi oleh bibit mangrove yang masih muda, kini vegetasi mulai tumbuh semakin rapat dan menunjukkan perkembangan lingkungan yang lebih baik.
Pada pemantauan Oktober 2026, tim menemukan semakin banyak aktivitas burung di sekitar kawasan mangrove. Keberadaan ikan juga mulai terlihat di perairan yang berada di antara tegakan tanaman.
Tidak hanya itu, akumulasi sedimen di sekitar vegetasi mangrove juga terlihat semakin meningkat dibandingkan pemantauan sebelumnya. Endapan tersebut secara bertahap membentuk lapisan substrat di kawasan penanaman dan menjadi salah satu perubahan lingkungan pesisir yang terus diamati perkembangannya.
Kehadiran berbagai biota tersebut menjadi indikasi positif bahwa kawasan penanaman mangrove mulai mendukung aktivitas kehidupan pesisir, sekaligus memperlihatkan pentingnya rehabilitasi vegetasi dalam menjaga keberlangsungan habitat alami.
Di sisi lain, berbagai tantangan lingkungan seperti organisme pengganggu tanaman dan sampah yang terbawa arus laut turut menjadi perhatian selama pelaksanaan program.
Melalui koordinasi dan kegiatan pemeliharaan rutin bersama Kelompok Tani Rafi Putra Jaya, permasalahan sampah pesisir yang sebelumnya ditemukan pada Juli 2026 telah tertangani dengan baik.
Intensitas gangguan organisme pada tanaman juga menunjukkan kecenderungan menurun, sehingga kondisi kawasan penanaman menjadi lebih terjaga.
Seiring dengan selesainya tahap penanaman dan pemeliharaan pada Oktober 2026, kegiatan rehabilitasi mangrove Project R&P Balongan memasuki tahapan pemantauan lanjutan bersama Konsultan IPB.
Kegiatan tersebut akan tetap dilakukan secara berkala untuk mengevaluasi pertumbuhan tanaman serta perkembangan kondisi lingkungan pesisir. Hasil pengukuran dan penilaian tanaman akan terus didokumentasikan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan manfaat program rehabilitasi mangrove.
Melalui penanaman 165.000 bibit mangrove di kawasan Pantai Tiris, Project R&P Balongan berharap vegetasi yang telah tumbuh dapat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem pesisir, termasuk menyediakan habitat bagi berbagai biota, mendukung perlindungan kawasan pantai, serta berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui sinergi antara industri energi, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. (Riyan/red)












