Ketua dan jajaran Asosiasi Petani Melon Indramayu melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria di Kantor Kemendes PDT, Jakarta Selatan. (foto/red/IS).
Indramayu, Site – Asosiasi Petani Melon Indramayu (APEMI) menyatakan siap menerima tantangan dari Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria, untuk menyusun modul budidaya melon yang dapat diterapkan secara nasional guna mendukung pengembangan pertanian modern dan ketahanan pangan desa.
Modul tersebut nantinya disiapkan sebagai panduan teknis bagi masyarakat yang ingin memulai usaha budidaya melon secara lebih terukur, mulai dari kebutuhan investasi, pengelolaan lahan, hingga sistem budidaya berbasis teknologi modern yang mudah diterapkan di berbagai daerah.
Ketua APEMI Ryan Rudyana, mengatakan organisasinya siap berkolaborasi dengan Kemendes PDT untuk menyusun program nasional budidaya melon beserta modul teknis dan perhitungan investasi melon hidroponik.
“APEMI siap berkolaborasi dengan Kemendesa PDT untuk membuat perencanaan program nasional disertai modul teknis budidaya dan perhitungan biaya investasi melon hidroponik yang bisa direplikasi di setiap kecamatan bahkan desa-desa di Indonesia hingga menembus pasar internasional,” kata Ryan, Rabu (20/5/2026).
Menurut Ryan, penyusunan modul budidaya melon diharapkan dapat mempermudah masyarakat maupun kelompok tani dalam mengembangkan usaha pertanian yang produktif dan bernilai ekonomi.
Pengawas APEMI Asep Rummi, menambahkan kesempatan kolaborasi dengan Kemendes PDT akan dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan desa melalui sektor pertanian produktif.
“APEMI akan menyiapkan modul terbaik sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung visi pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Asep.
Tantangan penyusunan modul budidaya melon tersebut disampaikan Ahmad Riza Patria saat menerima audiensi APEMI di Kantor Kemendes PDT, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Dalam pertemuan itu, Riza menilai sektor pertanian desa perlu didorong agar memiliki sistem budidaya yang modern, terukur, dan mudah direplikasi di berbagai daerah.
“Coba tolong dibuatkan modul, berapa nilai investasi setiap lima ratus meter persegi. Cari pribadi-pribadi, cari koperasi, perbankan-perbankan, kita bisa bantu itu. Jadi kalau modal jangan dijadikan masalah lah,” ujar Riza.
Selain itu, Riza juga mendorong agar setiap kecamatan di Kabupaten Indramayu memiliki titik budidaya melon sebagai sentra produksi buah lokal guna memperkuat pasokan pangan sekaligus memperpendek rantai distribusi.
“Kalau memang belum bisa perdesa, apakah perkecamatan dulu begitu. Misal dari tiga puluh empat kecamatan di Indramayu itu bisa gak, punya satu titik yang fokus pada budidaya melon itu,” kata Riza. (Riyan/red).












