Keysa Agustina (14) duduk bersama kedua orang tuanya, Uripah dan Sukardi, di rumah mereka di Desa Widasari. (foto/red)
Indramayu, Site – Di tengah rasa sakit yang terus ia rasakan, Keysa Agustina (14), gadis asal Desa Widasari Blok Karang Baru, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, tetap menunjukkan tekad besar untuk tetap bersekolah.
Pelajar kelas IX SMP itu telah lama berjuang melawan tumor pembuluh darah di bagian lutut, penyakit yang dideritanya sejak kecil dan kini kembali memburuk hingga segera memerlukan tindakan operasi.
Dalam beberapa waktu terakhir, pembengkakan pada lutut Keysa semakin parah dan mulai menghambat aktivitas hariannya. Keysa adalah anak kedua dari tiga bersaudara, putri pasangan Uripah (41) dan Sukardi (47).
Sukardi, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir, menjadi penopang utama keluarga dalam menghadapi kondisi kesehatan putrinya.
Perjalanan penyakit yang dialami Keysa bermula sejak ia lahir, ketika muncul tujuh titik menyerupai tahi lalat pada bagian lututnya.
Tanda itu semula tidak dicurigai sebagai penyakit karena menurut bidan yang membantu persalinan, titik tersebut hanyalah tanda lahir.
Namun kondisi mulai berubah ketika Keysa duduk di kelas 3 SD. Lututnya membengkak hingga membuatnya tidak dapat berjalan selama satu bulan.
“Awalnya waktu lahir ada seperti tahi lalat berjumlah tujuh di lututnya. Kata Ibu Bidan itu tanda lahir. Tapi pas umur kelas 3 SD, lututnya membengkak. Waktu itu Keysa sampai tidak bisa jalan selama sebulan,” ujar Sukardi, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (13/12/2025).
Keluarga kemudian membawa Keysa ke fasilitas kesehatan dan mendapat rujukan ke RS Hasan Sadikin Bandung.
Di rumah sakit tersebut, dokter memastikan bahwa Keysa mengidap tumor pembuluh darah. Ia diberi obat dan kondisinya membaik dalam dua hari hingga kembali bisa berjalan.
Namun proses pengobatan lanjutan, termasuk tindakan operasi, membutuhkan biaya besar sehingga tidak dapat dilanjutkan. Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya pada 2025 kondisinya kembali memburuk.
Selama satu bulan terakhir, Keysa terus menangis kesakitan akibat pembengkakan pada lututnya yang semakin parah.
“Dulu setelah diperiksa di Hasan Sadikin, dokter bilang Keysa kena tumor pembuluh darah. Dikasih obat, dua hari kemudian bisa jalan lagi. Tapi untuk berobat lebih lanjut dan operasi biayanya besar, jadi berhenti. Tahun ini kambuh lagi dan sudah sebulan Keysa terus nangis kesakitan,” kata Sukardi.
Agar Keysa kembali mendapatkan perawatan, pemerintah desa membantu mengurus BPJS. Dengan jaminan kesehatan itu, keluarga membawa Keysa ke RS Mitra Plumbon Indramayu.
Harapan keluarga sempat tumbuh karena mereka mengira tindakan operasi dapat dilakukan di sana.
Namun dokter menyatakan operasi tidak dapat dilakukan di RS Mitra dan merekomendasikan rujukan ke RS Ortopedi Prof Dr R Soeharso, Solo.
Mendengar kabar itu dari istrinya sepulang bekerja, Sukardi mengaku sangat terpukul.
“Waktu dibawa ke RS Mitra, saya punya harapan besar Keysa bisa dioperasi di sana. Tapi dokter bilang tidak bisa, harus dirujuk ke Solo. Pas dengar itu, saya langsung lemas,” ungkapnya.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Sukardi mengaku telah berupaya mencari bantuan ke berbagai pihak.
Pekerjaannya sebagai buruh serabutan mulai dari menjaga parkir hingga mencari nasi kering, tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menanggung biaya pengobatan putrinya.
Ia bahkan sempat menaruh harapan pada kemungkinan cairnya dana Mekar tahun depan, meski menunggu selama itu terasa sangat berat di tengah kondisi Keysa yang terus memburuk.
“Penghasilan saya cuma cukup buat makan. Makanya saya cari bantuan ke mana saja. Saya sempat berharap dari uang Mekar, tapi kalau harus nunggu setahun, berat sekali untuk kondisi Keysa sekarang,” tuturnya.
Selama sebulan terakhir, kondisi Keysa disebut sebagai masa terberat. Ia kerap menangis kesakitan, terutama setelah melakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau berjalan jauh.
Pembengkakan bahkan hingga mengeluarkan darah berwarna hitam. Penyakit itu juga menyebar ke bagian dada dan paha, muncul dalam bentuk titik merah kehitaman yang menyerupai tanda lahirnya dulu.
“Kalau habis olahraga atau jalan jauh, Keysa pasti nangis. Pernah sampai keluar darah hitam. Di dada dan pahanya juga muncul titik merah kehitaman, sama seperti waktu lahir dulu,” jelas Sukardi.
Namun setelah perjuangan panjang, bantuan mulai berdatangan. Tetangga yang aktif di media sosial turut menyuarakan kondisi Keysa hingga akhirnya pemerintah desa dan kecamatan memberikan dukungan.
Sukardi mengaku kini kembali memiliki harapan setelah sebelumnya sempat putus asa.
“Syukur alhamdulillah sekarang banyak yang bantu. Tadinya saya putus asa, merasa tidak ada harapan. Tapi berkat bantuan dari desa, kecamatan, dan tetangga yang membantu menyebarkan informasi, semangat saya kembali ada,” pungkasnya. (Red/***)












