Para pemain film Ratu Tarling tampil dalam acara launching film di Indramayu, Jawa Barat. (foto/red/Riyan).
Indramayu, Site – Produksi film digital mulai dimanfaatkan untuk mengangkat budaya dan identitas lokal ke ruang tontonan yang lebih luas. Fenomena itu terlihat di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, melalui produksi film vertikal Ratu Tarling yang mengangkat kesenian khas daerah tersebut.
Film yang diproduksi untuk platform digital Kflix itu tidak hanya melibatkan talenta lokal, tetapi juga mengambil cerita dan identitas budaya Indramayu sebagai bagian dari materi film. Kehadiran produksi film di daerah dinilai dapat memberi dampak ekonomi sekaligus menjadi media promosi tanpa harus mengandalkan iklan konvensional.
Direktur Produksi Kflix, Sri Sugesti Andayani, mengatakan produksi film berbasis kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menjadikan budaya daerah sebagai bagian dari aset bangsa. Menurutnya, Kflix membuka ruang bagi cerita, legenda, seni budaya, hingga potensi daerah untuk diangkat ke dalam film digital.
“Ini adalah salah satu bukti bahwa kita sebagai pencinta seni akhirnya bisa menyuguhkan bagaimana kearifan lokal masih bisa kita usung menjadi aset bangsa,” kata Sri Sugesti, usai acara Launching Film Ratu Tarling, di Kabupaten Indramayu, Sabtu (26/9/2026) malam.
Sri Sugesti menjelaskan, produksi film di Indramayu tidak berhenti pada Ratu Tarling. Kflix berencana mengembangkan cerita lain yang berkaitan dengan identitas daerah, termasuk legenda, sumber daya alam, kehidupan nelayan, hasil bumi, hingga kiprah pelaku seni budaya.
“Sangat banyak rencana-rencana yang akan kita buat dalam produksi film yang memang berkenaan dengan identitas daerah. Juga mengangkat legenda, mungkin cerita-cerita legenda dari Indramayu sendiri,” jelasnya.
Menurut Sri Sugesti, keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam produksi tersebut. Para pelaku seni dan talenta daerah dinilai memiliki pengalaman serta pengetahuan yang dapat memperkuat karakter cerita yang diangkat.
Sementara itu, Bupati Indramayu Lucky Hakim melihat kehadiran produksi film digital dari luar daerah sebagai aktivitas yang dapat memberikan efek ekonomi langsung. Kru yang datang untuk menjalani proses produksi membutuhkan makanan, tempat tinggal, lokasi syuting, hingga tenaga lokal.
“Ketika orang dari luar datang ke Indramayu, walaupun dia enggak syuting pun dia makan di Indramayu. Apalagi kru-nya banyak. Habis itu ada sewa-sewa tempat,” terang Lucky.
Selain perputaran ekonomi selama proses produksi, Lucky menilai film juga dapat menjadi sarana promosi daerah. Ketika lokasi, nama, maupun budaya Indramayu muncul dalam tayangan yang dapat diakses secara luas, daerah ikut memperoleh ruang pengenalan kepada penonton.
“Ketika mereka menayangkan, dan itu tayangnya secara global, baik secara nasional maupun bahkan ada yang bisa ditonton di luar negeri, ada logo-logo Indramayu. Jadi mengenalkan Indramayu ke skala nasional,” ujarnya.
Menurut Lucky, promosi melalui film memiliki karakter berbeda dibandingkan pemasangan iklan. Pemerintah daerah tidak harus mengeluarkan anggaran promosi ketika identitas daerah sudah menjadi bagian dari cerita yang diproduksi.
“Pemda tidak keluar uang, tapi mendapatkan promosi secara gratis. Jadi barter promo sebenarnya,” tutur Lucky.
Dampak lain terlihat dari keterlibatan talenta lokal dalam produksi Ratu Tarling. Lucky menyebut sekitar 90 persen pemain film tersebut berasal dari Indramayu.
Ia pun mendorong agar produksi film berikutnya tidak hanya menampilkan latar daerah, tetapi juga memasukkan unsur budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Sejumlah potensi yang dapat diangkat antara lain tradisi Ngarot, Tari Topeng, kuliner, serta kehidupan petani dan nelayan.
“Kalau di film Ratu Tarling di Kflix ini, ternyata 90 persen pemainnya orang Indramayu. Jadi, saya kira itu salah satu keuntungannya,” kata Lucky.
Lucky menilai promosi daerah melalui film tidak harus selalu mengandalkan panorama alam. Kekayaan budaya, kuliner, tradisi, hingga kehidupan masyarakat juga dapat menjadi daya tarik yang memperkenalkan karakter suatu daerah.
“Tidak semerta-merta yang namanya pariwisata harus sama dengan alam yang indah. Ada juga wisata religi, budaya, dan kuliner,” ucapnya.
Pemeran utama Ratu Tarling, Shela Hasan, menjadi salah satu talenta lokal yang terlibat dalam produksi tersebut. Shela memerankan karakter Laila Umami atau Violet yang menjadi Ratu Tarling.
Shela mengaku memiliki kedekatan dengan karakter yang diperankannya karena sebelumnya telah berkecimpung di dunia tarik suara. Dalam film tersebut, ia juga diminta membawakan lagu secara langsung dengan suara aslinya.
“Sebelumnya memang kan aku penyanyi, jadi tidak begitu jauh dari dunia aku. Apalagi di situ aku disuruh live, disuruh nyanyi dengan suara aku yang asli,” kata Shela.
Produksi film digital berbasis budaya lokal itu menunjukkan bahwa cerita daerah tidak hanya dapat ditempatkan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi konten hiburan yang menjangkau penonton lebih luas.
Di sisi lain, aktivitas produksi membuka ruang bagi pelaku ekonomi dan talenta lokal sekaligus memperkenalkan identitas daerah melalui medium digital. (Riyan/red).












