Menu ✖

Mode Gelap
Tuntaskan Penanaman dan Pemeliharaan 165 Ribu Mangrove, Project R&P Balongan Dorong Pemulihan Pesisir Indramayu Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan Perkuat Sinergi PIS dan PTK, Jaga Distribusi Energi Nasional Dukung Cegah Stunting, Pertamina Balongan Berikan Pendampingan Gizi bagi Orang Tua Rumah Mewah di Indramayu Dirampok, Pemilik Diduga Dibunuh, Emas Setengah Kilogram Raib Momen Humanis Kapolres Indramayu, Duduk di Aspal Bersama Mahasiswa Pendemo Perketat Pengawasan, Bulog Indramayu Monitoring 31 Kios Penyalur Beras SPHP

Indramayu

Kualitas Udara Indramayu Berada di Level Sedang di Tengah Isu Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

badge-check


					Kualitas Udara Indramayu Berada di Level Sedang di Tengah Isu Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Perbesar

Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. (foto/red/IS)

Indramayu, Site – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengungkap hasil pemantauan kualitas udara terbaru di wilayahnya di tengah isu sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Rabu (9/9/2026).

Berdasarkan pemantauan menggunakan alat Air Quality Monitoring System (AQMS), kualitas udara di pusat Kota Indramayu saat ini berada dalam kategori sedang.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Indramayu, D Subyar Mujihandono, mengatakan hasil tersebut berdasarkan pemantauan terbaru hingga pukul 12.00 WIB.

“Alat untuk mengecek kualitas udara ini bernama AQMS, ini bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Subyar.

Subyar menjelaskan, status kualitas udara berada pada level sedang karena konsentrasi PM 2,5 atau partikel udara berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron saat ini menyentuh angka 61.

Menurutnya, angka tersebut terus menunjukkan tren peningkatan sejak dini hari hingga siang hari. Meski demikian, konsentrasi polutan lainnya masih berada dalam kondisi sehat atau baik.

Subyar memastikan kualitas udara di Indramayu masih tergolong aman dan dapat diterima oleh tubuh meski berada dalam kategori sedang. Namun, alat AQMS yang digunakan untuk memantau kualitas udara secara real time tersebut tidak dapat mendeteksi secara spesifik asal muasal partikel yang terukur.

“Jadi tidak bisa dipastikan itu apakah disebabkan oleh abu vulkanik atau bukan, karena ada beberapa kemungkinan,” jelasnya.

Subyar menerangkan, terdapat sejumlah kemungkinan yang dapat memicu peningkatan konsentrasi PM 2,5 di Indramayu. Di antaranya polusi dari kendaraan bermotor hingga meningkatnya paparan debu akibat kondisi musim kemarau.

Ia mengakui isu erupsi Gunung Anak Krakatau sempat memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Bahkan, sejumlah warga menanyakan kepadanya mengenai penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

“Ada yang bertanya seperti itu, tapi itu kan ranahnya pimpinan ya, kalau saya dikembalikan lagi ke pribadinya masing-masing. Boleh pakai masker, kalau tidak juga tidak apa-apa, karena hasil kualitas udara juga masih tergolong aman,” terangnya.

Untuk menghindari kekhawatiran berlebihan, Subyar menyebut masyarakat dapat memantau kualitas udara secara mandiri melalui telepon pintar. Hasil pemantauan AQMS dapat diakses publik melalui aplikasi ISPUnet KLH.

“Iya bisa dicek mandiri, masyarakat bisa download aplikasi ISPUnet KLH, itu langsung muncul analisisnya. Hanya saja, kualitas udara yang terdeteksi hanya di pusat kota saja dengan jangkauan yang terbatas karena alatnya cuma satu buah,” terang Subyar.

Subyar mengungkapkan, pemantauan kualitas udara sebenarnya rutin dilakukan DLH Indramayu dan tidak hanya dilakukan ketika muncul isu abu vulkanik. Jika hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara memburuk, pemerintah daerah akan melakukan langkah mitigasi.

“Tapi alhamdulillah sampai dengan saat ini tidak pernah sampai kualitas udara di Indramayu dalam tidak sehat atau berbahaya,” ungkapnya.

Selain melakukan pemantauan, pemerintah daerah juga terus menjalankan berbagai upaya untuk menjaga kualitas udara di Indramayu. Upaya tersebut antara lain melalui penanaman pohon, pengolahan sampah, serta pelaksanaan Car Free Day dan Car Free Night.

Subyar menambahkan, menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab DLH, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai instansi pemerintah dan masyarakat.

“Karena udara ini sesuatu yang tidak hanya bisa oleh DLH saja yang menangani, perlu juga langkah dari instansi lain, termasuk juga masyarakat,” pungkasnya. (Riyan/red)

Baca Lainnya

Rumah Mewah di Indramayu Dirampok, Pemilik Diduga Dibunuh, Emas Setengah Kilogram Raib

3 November 2026 - 18:20 WIB

Momen Humanis Kapolres Indramayu, Duduk di Aspal Bersama Mahasiswa Pendemo

30 Oktober 2026 - 13:27 WIB

Perketat Pengawasan, Bulog Indramayu Monitoring 31 Kios Penyalur Beras SPHP

30 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Kapal di Atas 60 GT Kesulitan Melaut, GNP Perjuangkan Perbaikan Muara Karangsong Indramayu

28 Oktober 2026 - 13:03 WIB

Prabowo Salurkan 220 Becak Listrik untuk Lansia di Indramayu

25 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Trending di Indramayu