Sejarawan lokal Nang Sadewo menunjukkan Al-Qur’an tulis tangan peninggalan ulama Paoman di Museum Bandar Cimanuk. (foto/rian/IS)
Indramayu, Site – Jejak syiar Islam di Kota Mangga pada era 1870 hingga 1920 Masehi masih tersimpan kuat melalui peninggalan bersejarah berupa Al-Qur’an tulis tangan, manuskrip keagamaan, serta masjid-masjid pusaka yang tetap berdiri hingga kini.
Bukti-bukti tersebut menegaskan bahwa Indramayu pernah menjadi pusat perkembangan dakwah dan tradisi keilmuan Islam di pesisir utara Pulau Jawa.
Salah satu peninggalan terpenting adalah Al-Qur’an tulis tangan dari lingkungan ulama Paoman yang kini dirawat di Museum Bandar Cimanuk.
Manuskrip yang digunakan pada masa Syekh Abdul Manan itu menjadi bukti kuat berkembangnya literasi Islam, sekaligus menunjukkan peran ulama dalam menyebarkan ajaran agama melalui pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat.
Ketua Yayasan Indramayu Historia Foundation sekaligus sejarawan lokal, Nang Sadewo, mengatakan Al-Qur’an tersebut ditemukan pada 2017 dalam kondisi kurang terawat sebelum akhirnya dikonservasi dan dirawat secara berkala.
“Al-Qur’an ini menjadi bukti otentik bagaimana tradisi keilmuan Islam berkembang di Indramayu,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Menurut Sadewo, penyebaran Islam pada masa itu juga erat kaitannya dengan dakwah bercorak tarekat, khususnya Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah yang menekankan pembinaan moral dan penguatan spiritual masyarakat.
Selain manuskrip, jejak syiar Islam juga tampak dari keberadaan masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Baiturrahmah Dermayu yang diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-16.
Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, sejumlah bagian asli seperti tiang utama dan struktur pengimaman masih dipertahankan.
Masjid bersejarah lainnya adalah Masjid Kuno Bondan atau Masjid Sapu Angin yang diyakini dibangun sekitar tahun 1414 dan menjadi salah satu simbol awal perkembangan Islam di wilayah tersebut.
Rangkaian peninggalan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang syiar Islam di Indramayu, sekaligus warisan nilai keagamaan yang tetap relevan hingga kini, terutama dalam momentum Ramadan. (Rian/red)












