Direktur Utama Perumdam Tirta Darma Ayu Kabupaten Indramayu, Nurpan (tengah), didampingi jajaran berfoto bersama sejumlah wartawan usai menyelesaikan persoalan pemasangan water meter baru di Balai Wartawan Indramayu. (foto/red/IS).
Indramayu, Site – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Darma Ayu Kabupaten Indramayu bergerak cepat menangani persoalan hilangnya alat pengukur kubikasi air (water meter) yang terpasang di Balai Wartawan Indramayu.
Perumdam langsung memasang water meter baru dengan kapasitas yang lebih besar dibandingkan sebelumnya untuk memastikan layanan air bersih kembali berjalan normal.
Direktur Utama Perumdam Tirta Darma Ayu Kabupaten Indramayu, Nurpan, mengatakan persoalan hilangnya water meter di Balai Wartawan kini telah diselesaikan dan tidak lagi menjadi kendala.
“Alhamdulillah, sekarang sudah terpasang alat ukur yang baru dengan kapasitas yang lebih baik,” kata Nurpan, Jumat (3/7/2026).
Menurut Nurpan, penyelesaian persoalan tersebut tidak terlepas dari hasil diskusi antara pihak Perumdam dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Indramayu.
“Memang ada kenaikan pemakaian di Gedung Balai Wartawan Kabupaten Indramayu sehingga memengaruhi tagihan air setiap bulan. Hanya saja, pemakaian itu bukan berasal dari internal, melainkan pihak eksternal,” ujarnya.
Atas dasar itu, lanjut Nurpan, sempat terjadi kesalahpahaman antara petugas lapangan dengan para wartawan di Balai Wartawan Indramayu.
“Hasil dari diskusi, yang tadinya alokasi pemakaian di Gedung Balai Wartawan hanya 10 kubik per bulan, sekarang menjadi 30 kubik dan menjadi tanggung jawab pihak PDAM Indramayu,” terangnya.
Sebelumnya, water meter PDAM yang terpasang di Balai Wartawan Indramayu diketahui hilang. Hilangnya fasilitas tersebut diduga berkaitan dengan konflik antara kalangan wartawan dan Perumdam Tirta Darma Ayu Indramayu.
Salah satu wartawan, Abdul Gani menuturkan, pada Senin lalu aliran air PDAM masih mengalir dan dimanfaatkan untuk aktivitas wartawan dari sejumlah organisasi kewartawanan yang menempati Balai Wartawan.
“Paling di sini airnya digunakan untuk wudhu dan juga dimanfaatkan oleh warung milik anggota wartawan,” jelasnya.
Namun setelah dilakukan pengecekan, water meter yang telah terpasang sejak Balai Wartawan berdiri pada 1987 diketahui telah hilang.
Kondisinya dinilai rapi dan disebut-sebut mirip dengan kasus hilangnya sejumlah water meter milik warga yang sempat diberitakan beberapa bulan lalu.
“Pencopotannya rapi dan hampir mirip dengan water meter yang hilang di beberapa wilayah kecamatan di Indramayu. Nanti kita sama-sama lihat di CCTV,” ujar sejumlah wartawan.
Berdasarkan catatan yang dihimpun, sambungan air bersih di Balai Wartawan Indramayu telah terpasang sejak gedung tersebut berdiri pada 1987 atau pada masa pemerintahan Bupati Indramayu, Jahari. Saat itu, Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui PDAM memberikan layanan pembebasan biaya tagihan air bagi Gedung Balai Wartawan sebagai bentuk sinergi antar lembaga.
Kebijakan tersebut disebut berlanjut hingga masa kepemimpinan Bupati Indramayu Nina Agustina. Namun, pada masa kepemimpinan Bupati Indramayu Lucky Hakim, Perumdam Tirta Darma Ayu mulai melakukan penagihan. Kalangan wartawan mengaku telah berupaya menjelaskan riwayat kebijakan tersebut, namun menilai penjelasan itu belum mendapat tanggapan sebagaimana yang diharapkan. (Riyan/red).












