Kondisi rumah warga yang terdampak tanah amblas di bantaran Sungai Cimanuk, Blok Gumiwang Utara, Desa/Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. (foto/red/IS).
Indramayu, Site – Pergerakan tanah yang menyebabkan amblasnya bantaran Sungai Cimanuk di Blok Gumiwang Utara, Desa/Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut mengancam puluhan rumah warga yang berada di sekitar bantaran sungai.
Titik terparah berada di wilayah RW 04 yang dihuni sekitar 373 kepala keluarga (KK). Tanah yang amblas tidak hanya menggerus bantaran sungai, tetapi juga telah merambat ke lahan milik warga. Dari ratusan keluarga yang tinggal di wilayah tersebut, sedikitnya 45 rumah berada di zona paling rawan karena lokasinya sangat dekat dengan area tanah yang terus mengalami penurunan.
Tokoh masyarakat setempat, Amir, mengatakan pergerakan tanah mulai terjadi setelah banjir besar akibat luapan Sungai Cimanuk pada 2021. Sejak saat itu, penurunan permukaan tanah terus berlangsung dan belum pernah benar-benar berhenti.
“Awalnya terjadi setelah banjir besar tahun 2021. Sampai sekarang tanah terus bergerak dan turun. Di beberapa titik penurunannya cukup dalam dan sudah mendekati rumah-rumah warga,” kata Amir, Rabu (5/8/2026).
Menurut Amir, kedalaman tanah yang amblas di sejumlah titik mencapai sekitar 4 hingga 5 meter. Kondisi tersebut menyebabkan retakan tanah merambat hingga ke area permukiman dan mengakibatkan sejumlah bangunan mengalami kemiringan.
“Penopang bangunan sudah ada yang miring dan terancam roboh. Warga sampai harus mengganjalnya dengan batu agar tidak semakin bergeser,” ujarnya.
Amir mengungkapkan pemerintah dan pihak terkait telah dua kali melakukan penanganan di lokasi tersebut. Namun, upaya yang dilakukan masih bersifat sementara sehingga belum mampu menghentikan penurunan tanah yang terus terjadi.
“Kami berharap ada penanganan permanen secepatnya. Saat ini masih musim kemarau sehingga pekerjaan akan lebih mudah dilakukan sebelum musim hujan datang dan kondisi menjadi lebih parah,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga terdampak, Harun, mengaku hidup dalam kecemasan karena rumah yang ditempatinya bersama lima anggota keluarga berada sangat dekat dengan lokasi tanah amblas. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena di rumah itu juga tinggal seorang lansia yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kalau ada kabar tanah bergerak, saya sering langsung pulang dari pekerjaan untuk memastikan kondisi rumah dan keluarga aman,” tutur Harun.
Pergerakan tanah telah menyebabkan dinding rumah Harun retak dan struktur bangunannya mengalami kemiringan. Untuk mempertahankan kondisi rumah, ia mengaku sudah beberapa kali melakukan perbaikan.
“Sudah hampir empat kali saya renovasi. Sekarang masih ada bagian atap yang rencananya akan diperbaiki lagi karena bangunan terus mengalami pergeseran,” jelasnya.
Dalam dua hari terakhir, Harun membuat tanggul penahan sederhana menggunakan tanah urugan dan bambu untuk mengurangi risiko area yang amblas semakin mendekati rumahnya. Meski lahan yang mengalami penurunan berada di tanah milik tetangganya, ia menilai kondisi tersebut tetap membahayakan keselamatan keluarganya.
“Kalau memang ada program relokasi, saya siap. Yang penting keluarga bisa tinggal di tempat yang aman dan tidak terus dihantui rasa khawatir,” pungkasnya. (Riyan/red).












