Pelintas merunduk saat melewati Underpass dadakan di Desa Larangan Kabupaten Indramayu. (foto/nopianto/IS)
Indramayu, Site – Musim mudik Lebaran selalu menyisakan cerita unik di sepanjang jalur Pantura. Setiap tahun, perhatian publik tertuju pada Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.
Bukan karena kemacetannya yang melegenda, melainkan karena kreativitas warganya yang membangun “underpass” dadakan demi menyiasati penutupan akses jalan.
Penutupan persimpangan tiga Celeng selama masa mudik seringkali memaksa pengendara harus memutar jauh untuk sekadar menyeberang jalur.
Kondisi inilah yang memicu warga blok maja Desa Larangan untuk bergotong royong membangun jalur alternatif di bawah jembatan Maja.
Berbekal papan kayu yang ditata rapi sepanjang 40 meter, “under pass” sederhana ini menjadi urat nadi baru bagi para pelintas dari arah Cirebon menuju Jakarta.
Jalur ini memungkinkan pengendara menyeberang dengan cepat tanpa harus terjebak dalam antrean putaran jauh di jalan utama.
Menurut salah seorang petugas pengatur lalulintas underpass dadakan itu, pengelolaan infrastruktur swadaya masyarakat ini tergolong rapi.
Konon, sebanyak 20 warga dikerahkan setiap harinya untuk mengatur lalu lintas dan memberikan aba-aba guna menjaga keselamatan para pelintas.
Uniknya, petugas yang berjaga digilir berdasarkan pembagian wilayah Rukun Tetangga (RT).
Terkait biaya operasional, terlihat warga tidak mematok tarif resmi. Sebuah box plastik disiapkan bagi para pelintas yang ingin memberikan sumbangan seikhlasnya.
“Hasil dari sumbangan itu dibagi rata mas. Per hari, setiap petugas kalau ramai kadang bisa mendapatkan honor bagian antara Rp25 ribu hingga Rp40 ribu,” ujar Daryono, salah satu pengelola jalur tersebut, Selasa (17/3/2026).
Meski terlihat sederhana, warga tetap memikirkan aspek teknis. Mengingat lokasinya yang berada tepat di bawah jembatan dan bersinggungan dengan aliran sungai Maja, sebuah mesin diesel pompa air telah disiagakan di lokasi.
Mesin ini berfungsi untuk menguras air dengan cepat apabila debit sungai tiba-tiba meluap, sehingga jalur tetap aman dilalui.
Sementara itu, kehadiran dari underpass kayu ini disambut baik oleh para pelintas dan warga sekitar. Efisiensi waktu menjadi alasan utama.
“Walaupun harus merunduk, saya merasa sangat terbantu. Daripada harus memutar jauh karena simpang Celeng ditutup, lewat sini jadi lebih cepat dan praktis,” ungkap Deni salah seorang pengendara motor yang melintas.
Fenomena di Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, ini membuktikan bahwa di tengah keterbatasan dan aturan ketat mudik, kearifan lokal dan semangat gotong royong warga mampu menghadirkan solusi yang nyata bagi masyarakat luas. (Nopianto/red)












